image
image

Bagaimana Mereka Bisa Melihat Ketika Mata Tidak Mereka Gunakan Dengan Semestinya


Posted : | 2016/10/26

Pelanggaran Lalu Lintas
bekasiurbancity.com
Siang itu lalu lintas jalan raya terlihat ramai padat. Lalu lalang kendaraan bermotor memenuhi jalanan yang bergelombang karena ada perbaikan jalan sehingga membuat jalanan terlihat sangat sempit. Ditambah lagi dengan adanya trafic light yang mengharuskan pemakai jalan harus bergantian dari tiga arah yang berbeda.
Aku memandang detik lampu merah yang tak kunjung hijau. Orang-orang menerjang lampu merah tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, bahkan ada yang dengan pedenya tertawa ketika mereka melintas dengan tatapan mengejek kepadaku. Dan yang paling parah lagi dengan lagak marah mereka membunyikan klakson dan memaksa menerobos pemakai jalan yang berhenti saat lampu merah.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menantapkan hati seraya berkata "Aku berhenti karena aku bisa membaca." Sudah berkali-kali aku melihat markah jalan itu yang bertuliskan "Lurus ikuti lampu". Namun terkadang aku terpaksa melihat markah jalan itu untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah melihatnya.

Yang aku temui ada tiga trafic light yang sering diabaikan oleh pengguna jalan. Dan aku menemuinya pada saat berangkat dan pulang kuliah. Dua diantara Trafic light itu memang tidak ada petunjuknya secara jelas. Tapi salah satunya bertempat di perempatan yang secara otomatis lurus harus mengikuti lampu. Namun pada kenyataannya, banyak pengguna jalan yang mengabaikannya.

Terkadang aku tertawa sendiri ketika berhenti di trafic light itu. Banyak kejadian-kejadian yang sering membuat aku tertawa. Terkadang ketika aku berangkat bersama temanku juga tak jarang kita tertawa bersama, usil dengan pengguna jalan yang mau menerobos jalan dengan berhenti di tengah jalan, kaki sedikit dilebarkan ke kiri dan ke kanan, sehingga terkadang ada pengguna jalan yang terbawa emosi, dan setelah orang itu lewat, kita tertawa penuh kemenangan.

***

Aku melihat ke arah detik lampu merah masih menunjukkan detik ke lima belas. Orang-orang masih berlalu menerobos lampu merah. Sambil menunggu, aku menghitung jumlah pengguna jalan yang menerobos lampu merah.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas

Lampu hijau menyala. Aku langsung tancap gas meninggalkan trafic light yang penuh dengan kegilaan itu. Dalam hatiku hanya mengambil sebuah pelajaran yang sederhana, tapi banyak orang yang melalaikannya. Bahkan orang yang aku cintai pun bagian dari mereka yang melanggar lalu lintas. Aku hanya berpikir aku lebih beruntung dari dirimu.

Dalam hatiku bertanya-tanya " bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak menggunakan mata sebagaimana mata itu berfungsi. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau membutakan matamu sendiri. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak mau tahu keadaanmu sendiri. Memang aku akui, kau lebih pintar dari aku, masalah nilaipun aku masih jauh di bawah, daripada nilaimu. Tapi aku punya nilai lebih. Aku lebih beruntung daripada dirimu. Walaupun aku tak sehebat kamu. Tapi aku bisa membaca. Aku masih bisa melihat. Aku masih peduli dengan diriku sendiri. Aku masih taat pada peraturan.

Apa gunanya pendidikan tinggi tapi untuk membacapun kau membutakan mata.
Apa gunanya kau punya nilai yang tinggi tapi kau tak peduli dengan dirimu sendiri yang bisa berakibat mencelakakan dirimu sendiri dan orang lain.

Apa gunanya semua itu?

***

Masih dalam jarak 100 meter sudah terhadang oleh lampu orange yang menyala tandanya hati-hati pelan-pelan, dan aku berhenti tepat pada lampu merah. Aku mengira semua yang terjadi di trafic light yang sudah aku lewati itu wajar. Dan trafic light yang satunya ini sangat tidak wajar dan sangat berbahaya  jika ada pengguna jalan yang menerobosnya.

Tapi, lampu merah, pengguna jalan dari arah depan sudah mulai jalan sekitar 5 detik lampu merah berlalu, masih ada pengguna jalan yang satu arah denganku menerobos lampu merah yang sedang menyala. Dan tidak hanya satu orang, tapi dua pengendara motor dan satu pengendara mobil.
Dalam hatiku,"Ohh... ternyata."
#AwingSafi