image

Keinginan yang Masih Terpendam


Posted : | 2016/10/24

Malam itu terdengar suara adzan isya yang menggema di udara. Seorang pemuda masih sibuk menulis perjalanan hidupnya. Dalam hatinya berkata, aku sangat menginginkan sesuatu, namun hati ini terus menolak dan seakan-akan tidak setuju dengan keinginanku.

Dia terus terbayang-bayang dengan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Dia merasa nyaman ketika dia menulis perjalanan hidupnya. Dia merasa tenang ketika dia menuruti hati kecilnya, bukan tugas-tugas yang selalu menghantuinya, yang selalu mengejar-ngejar hidupnya. Dia merasa nyaman ketika dia mampu berkarya, bukan karena dikejar-kejar deadline yang menyusahkannya. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, dia punya pendirian yang tidak bisa diusik oleh siapapun.

Kepenatan hidupnya membuatnya enggan untuk melakukan aktivitas. Dia menarik nafas dalam-dalam dan teringat sesuatu.

Dia mulai merasa sakit , dia teringat ketika dia harus menahan rasa sakit dari dalam hatinya. Rasa sakit yang sangat sulit untuk di obati. Rasa sakit yang membuatnya hampir bunuh diri. Rasa sakit yang tak bisa untuk dihindari. Terasa sakit, tapi hanya mampu pasrah menerima dengan sadar diri.

Kebingungan menyelimuti dirinya waktu itu. Dia mencoba mengalihkan pikirannya, namun sudah terlalu dalam rasa sakit itu menusuk hatinya. Dia berharap tapi putus asa. Dia berdoa tapi tak percaya. Dia hanya kebingungan dan hanya mengikuti kata-kata hatinya.

Dia semakin bertanya-tanya dalam hatinya, apakah iya, aku tidak bisa. Apakah iya, aku tidak mampu. Apakah iya, aku bukan siapa-siapa. Padahal aku merasa, aku lebih berhak mendapatkannya. Padahal aku merasa, aku lebih pantas menyandangnya. Padahal aku merasa, aku selalu punya nilai lebih daripada yang lainnya. Kenapa aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan. Kenapa aku merasa seperti tidak ada nilainya di pandangan matanya. Kenapa dia tak mau sedikitpun merasakannya, memahamiku, mengerti apa yang aku mau. Ah mungkin dia benar-benar tak menyukaiku. Aku hanya pasrah menerima keadaan ini.

Dia hanya merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dia masih teringat kata-kata yang keluar dari orang yang membuatnya sakit hati. Dia merasakan begitu sakit dalam hatinya. Dia meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya. Air mata penuh penyesalan. Air mata penuh ke-amarahan. Air mata penuh dendam. Air mata yang penuh dengan kedukaan. Dia benar-benar merasakan kesedihan yang sangat mendalam.

Banginya, kebaikan adalah segalanya.
Baginya, kebaikan adalah hal yang harus dipertahankan.
Baginya, kebaikan tidak bisa dibeli dengan apapun.
Baginya, kebaikan adalah harga mati yang akan dibawa kemanapun dia pergi.
Baginya. Kebaikan adalah hal yang tidak bisa disingkirkan dari dalam genggaman tangannya.
Baginya, kebaikan adalah nyawanya.

Dia meng-iyakan hatinya, iya kebaikan tidak bisa dibeli dengan omonganmu yang hanya bisa menusuk. Omongan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Omongan yang tak pernah kau pikirkan. Omongan yang tak kau pikirkan sebelumnya. Iya.. kau hanya mau menangnya sendiri. Kau hanya menuruti egomu sendiri. Tapi sebenarnya kau tak peduli dengan apa yang nantinya aku alami. Iya kau memang musuh dalam selimut. Iya itulah sifatmu yang tak pernah kau pikirkan.

Dia terus berusaha meyakinkan hatinya. Dia terus mempertahankan prinsip hidupnya. Dia sangat peduli dengan dirinya sendiri. Dia harus menjaga kejujurannya.

Pemuda itu terus berpikir dalam kegelapan. Dia terus mengikuti titik cahaya putih dengan penuh harapan, namun dia tak sadarkan diri dan dia tertidur terlelap untuk selamanya.

#AwingSafi