image
image

Ketika Hidup Harus Memilih


Posted : | 2016/11/01

Ketika Hidup Harus Memilih

Sering kali kita melupakan perjuangan seorang ayah
Kita lupa apa yang sudah ayah perjuangkan untuk kita
Kita lupa ketika kita marah-marah
Namun sebenarnya kita tidak tahu apa yang sudah ayah perjuangkan untuk kita
Ingatlah kawan.
Terkadang ayah harus mengorbankan kebahagiaan kita demi kebahagiaan banyak orang
Ingatlah itu kawan
Jangan marah-marah lagi karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
dan semua yang ayah lakukan adalah yang terbaik

Semoga video ini bisa menginspirasi kita untuk semakin bijak dalam menghadapi setiap pilihan.
 
[...]
image
image

Bagaimana Mereka Bisa Melihat Ketika Mata Tidak Mereka Gunakan Dengan Semestinya


Posted : | 2016/10/26

Pelanggaran Lalu Lintas
bekasiurbancity.com
Siang itu lalu lintas jalan raya terlihat ramai padat. Lalu lalang kendaraan bermotor memenuhi jalanan yang bergelombang karena ada perbaikan jalan sehingga membuat jalanan terlihat sangat sempit. Ditambah lagi dengan adanya trafic light yang mengharuskan pemakai jalan harus bergantian dari tiga arah yang berbeda.
Aku memandang detik lampu merah yang tak kunjung hijau. Orang-orang menerjang lampu merah tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, bahkan ada yang dengan pedenya tertawa ketika mereka melintas dengan tatapan mengejek kepadaku. Dan yang paling parah lagi dengan lagak marah mereka membunyikan klakson dan memaksa menerobos pemakai jalan yang berhenti saat lampu merah.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menantapkan hati seraya berkata "Aku berhenti karena aku bisa membaca." Sudah berkali-kali aku melihat markah jalan itu yang bertuliskan "Lurus ikuti lampu". Namun terkadang aku terpaksa melihat markah jalan itu untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah melihatnya.

Yang aku temui ada tiga trafic light yang sering diabaikan oleh pengguna jalan. Dan aku menemuinya pada saat berangkat dan pulang kuliah. Dua diantara Trafic light itu memang tidak ada petunjuknya secara jelas. Tapi salah satunya bertempat di perempatan yang secara otomatis lurus harus mengikuti lampu. Namun pada kenyataannya, banyak pengguna jalan yang mengabaikannya.

Terkadang aku tertawa sendiri ketika berhenti di trafic light itu. Banyak kejadian-kejadian yang sering membuat aku tertawa. Terkadang ketika aku berangkat bersama temanku juga tak jarang kita tertawa bersama, usil dengan pengguna jalan yang mau menerobos jalan dengan berhenti di tengah jalan, kaki sedikit dilebarkan ke kiri dan ke kanan, sehingga terkadang ada pengguna jalan yang terbawa emosi, dan setelah orang itu lewat, kita tertawa penuh kemenangan.

***

Aku melihat ke arah detik lampu merah masih menunjukkan detik ke lima belas. Orang-orang masih berlalu menerobos lampu merah. Sambil menunggu, aku menghitung jumlah pengguna jalan yang menerobos lampu merah.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas

Lampu hijau menyala. Aku langsung tancap gas meninggalkan trafic light yang penuh dengan kegilaan itu. Dalam hatiku hanya mengambil sebuah pelajaran yang sederhana, tapi banyak orang yang melalaikannya. Bahkan orang yang aku cintai pun bagian dari mereka yang melanggar lalu lintas. Aku hanya berpikir aku lebih beruntung dari dirimu.

Dalam hatiku bertanya-tanya " bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak menggunakan mata sebagaimana mata itu berfungsi. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau membutakan matamu sendiri. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak mau tahu keadaanmu sendiri. Memang aku akui, kau lebih pintar dari aku, masalah nilaipun aku masih jauh di bawah, daripada nilaimu. Tapi aku punya nilai lebih. Aku lebih beruntung daripada dirimu. Walaupun aku tak sehebat kamu. Tapi aku bisa membaca. Aku masih bisa melihat. Aku masih peduli dengan diriku sendiri. Aku masih taat pada peraturan.

Apa gunanya pendidikan tinggi tapi untuk membacapun kau membutakan mata.
Apa gunanya kau punya nilai yang tinggi tapi kau tak peduli dengan dirimu sendiri yang bisa berakibat mencelakakan dirimu sendiri dan orang lain.

Apa gunanya semua itu?

***

Masih dalam jarak 100 meter sudah terhadang oleh lampu orange yang menyala tandanya hati-hati pelan-pelan, dan aku berhenti tepat pada lampu merah. Aku mengira semua yang terjadi di trafic light yang sudah aku lewati itu wajar. Dan trafic light yang satunya ini sangat tidak wajar dan sangat berbahaya  jika ada pengguna jalan yang menerobosnya.

Tapi, lampu merah, pengguna jalan dari arah depan sudah mulai jalan sekitar 5 detik lampu merah berlalu, masih ada pengguna jalan yang satu arah denganku menerobos lampu merah yang sedang menyala. Dan tidak hanya satu orang, tapi dua pengendara motor dan satu pengendara mobil.
Dalam hatiku,"Ohh... ternyata."
#AwingSafi
[...]
image

Keinginan yang Masih Terpendam


Posted : | 2016/10/24

Malam itu terdengar suara adzan isya yang menggema di udara. Seorang pemuda masih sibuk menulis perjalanan hidupnya. Dalam hatinya berkata, aku sangat menginginkan sesuatu, namun hati ini terus menolak dan seakan-akan tidak setuju dengan keinginanku.

Dia terus terbayang-bayang dengan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Dia merasa nyaman ketika dia menulis perjalanan hidupnya. Dia merasa tenang ketika dia menuruti hati kecilnya, bukan tugas-tugas yang selalu menghantuinya, yang selalu mengejar-ngejar hidupnya. Dia merasa nyaman ketika dia mampu berkarya, bukan karena dikejar-kejar deadline yang menyusahkannya. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, dia punya pendirian yang tidak bisa diusik oleh siapapun.

Kepenatan hidupnya membuatnya enggan untuk melakukan aktivitas. Dia menarik nafas dalam-dalam dan teringat sesuatu.

Dia mulai merasa sakit , dia teringat ketika dia harus menahan rasa sakit dari dalam hatinya. Rasa sakit yang sangat sulit untuk di obati. Rasa sakit yang membuatnya hampir bunuh diri. Rasa sakit yang tak bisa untuk dihindari. Terasa sakit, tapi hanya mampu pasrah menerima dengan sadar diri.

Kebingungan menyelimuti dirinya waktu itu. Dia mencoba mengalihkan pikirannya, namun sudah terlalu dalam rasa sakit itu menusuk hatinya. Dia berharap tapi putus asa. Dia berdoa tapi tak percaya. Dia hanya kebingungan dan hanya mengikuti kata-kata hatinya.

Dia semakin bertanya-tanya dalam hatinya, apakah iya, aku tidak bisa. Apakah iya, aku tidak mampu. Apakah iya, aku bukan siapa-siapa. Padahal aku merasa, aku lebih berhak mendapatkannya. Padahal aku merasa, aku lebih pantas menyandangnya. Padahal aku merasa, aku selalu punya nilai lebih daripada yang lainnya. Kenapa aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan. Kenapa aku merasa seperti tidak ada nilainya di pandangan matanya. Kenapa dia tak mau sedikitpun merasakannya, memahamiku, mengerti apa yang aku mau. Ah mungkin dia benar-benar tak menyukaiku. Aku hanya pasrah menerima keadaan ini.

Dia hanya merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dia masih teringat kata-kata yang keluar dari orang yang membuatnya sakit hati. Dia merasakan begitu sakit dalam hatinya. Dia meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya. Air mata penuh penyesalan. Air mata penuh ke-amarahan. Air mata penuh dendam. Air mata yang penuh dengan kedukaan. Dia benar-benar merasakan kesedihan yang sangat mendalam.

Banginya, kebaikan adalah segalanya.
Baginya, kebaikan adalah hal yang harus dipertahankan.
Baginya, kebaikan tidak bisa dibeli dengan apapun.
Baginya, kebaikan adalah harga mati yang akan dibawa kemanapun dia pergi.
Baginya. Kebaikan adalah hal yang tidak bisa disingkirkan dari dalam genggaman tangannya.
Baginya, kebaikan adalah nyawanya.

Dia meng-iyakan hatinya, iya kebaikan tidak bisa dibeli dengan omonganmu yang hanya bisa menusuk. Omongan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Omongan yang tak pernah kau pikirkan. Omongan yang tak kau pikirkan sebelumnya. Iya.. kau hanya mau menangnya sendiri. Kau hanya menuruti egomu sendiri. Tapi sebenarnya kau tak peduli dengan apa yang nantinya aku alami. Iya kau memang musuh dalam selimut. Iya itulah sifatmu yang tak pernah kau pikirkan.

Dia terus berusaha meyakinkan hatinya. Dia terus mempertahankan prinsip hidupnya. Dia sangat peduli dengan dirinya sendiri. Dia harus menjaga kejujurannya.

Pemuda itu terus berpikir dalam kegelapan. Dia terus mengikuti titik cahaya putih dengan penuh harapan, namun dia tak sadarkan diri dan dia tertidur terlelap untuk selamanya.

#AwingSafi

[...]
image
image

Awan Dingin Menyejukkan Hati


Posted : | 2016/09/30

http://tub.tubgit.com/reimg/resize-img.php?src=http://tub.tubgit.com/images247/qeopgp2kq05.jpg&h=450&w=728
tub.tubgit.com
Sambutan angin pagi mengalir kesela-sela pori-pori menyapa kulit ari. Lalu lalang kehidupan terus berjalan tak berhenti di perempatan jalan. Awan kelam telah menjadi awan penyejuk perasaan yang paling dalam. Udara segar mengisi relung hati penuh dengan ketenangan.
Aku masih tak mengerti apa arti awan hari ini. Bayanganku masih menerpa-nerpa kenangan masa lalu yang pernah berlalu. Seperti bayangan tanpa makna, tapi kini menjadi pertanyaan yang nyata dalam kesendirianku. Aku masih mencoba terus berfikir.

Awan, kemana dia pergi, Aku terus mencari, tapi hanya rasa dingin yang aku dapati. Aku mencoba mengira-ngira apakah dia menjelma sebagai penyejuk hati, ataukah dia hilang diterpa hujan, aku yakin dalam kebimbangan. Aku hanya pasrah dengan keadaan.

Aku merasa nyaman ketika dia tak menghadang, namun aku merasa kehilangan. Aku kehilangan kehadirannya sejak dari sore yang telah lalu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasa kehilangan walapun dia sering membutakan mataku.

Ah awan, aku tak mengerti apa yang kau lakukan. Apakah kau hanya mengikuti takdir Tuhan, ataukah kau melakukan apa yang kau pikirkan. Awan menghilang ditelan hujan. Aku tak habis pikir kenapa dia menghilang begitu saja dari pandangan mataku yang sayu.

*AwingSafi

Cerita ini saya ambil pada sore hari ketika saya sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Ketika itu saya tertegun dengan pemandangan pegunungan yang terlihat jelas dari bumi Pekalongan tepatnya di Kecamatan Kedungwuni. Saya tertegun karena pemandangan pegunungan ini sangat jarang sekali terlihat dari sini. Pemandangan pegunungan yang terlihat jelas biru kehijau-hijauan sehingga terasa seperti sangat dekat dengan pegunungan ditambah lagi dengan hawa sejuk yang memanjakan kulit, menjadikan suasana seperti di pegunungan asli.

Pada waktu itu saya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ketika setelah hujan, kabut justru tidak terlihat. Saya menyebutnya sebagai awan. Dan pada waktu itu pula banyak pertanyaan yang mucul dari benak saya. Dan saya hanya terkagum-kagum merasakan suasana yang sangat nyaman.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa semua itu sudah ada yang menentukan dan semua itu sudah diatur sedemikian rupa. Awan menghilang mungkin terbawa hujan. Dan hujan menjadi sebab sebuah keindahan datang, walaupun saya merasa kehilangan awan, tapi ternyata dia ingin menunjukkan sebuah keagungan Tuhan.

Thank you for your attention

Read my story more :)
[...]