Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts
image

Part 2 - Maha Besar Allah yang Telah Menciptakan Dunia dan Seisinya


Posted : | 2018/01/18

Memang hari ini adalah hari dimana aku bermimpi aneh lebih dari empat kali. Entah itu benar-benar mimpi atau itu bukan sebuah mimpi. Mau dikatakan mimpi, tapi aku benar-benar merasakan apa yang terjadi di dalam mimpi itu. Ketika berjalan, aku merasakan kaki ini berjalan di atas tanah.

Mau dikatakan bukan mimpi tapi orang orang yang ada di dalam mimpi adalah saudara-saudara dan teman-temanku. Itu adalah sangat mustahil jika dikatakan bukan mimpi. Entahlah itu mimpi atau bukan yang jelas hal itu terjadi dalam tidurku.

Mungkin aku tidak bisa bercerita satu persatu kejadian aneh atau mimpi yang terjadi sampai lebih dari empat kali dalam sehari. Aku hanya ingin melanjutkan cerita yang sempat ku potong pagi tadi.

***

Terlihat keramaian di sebuah sekolahan. Aku tidak tahu tempat aku berdiri saat itu, yang jelas di halaman sekolah terlihat kesibukan teman-temanku yang sedang mempersiapkan acara HUT RI. Jangan tanyakan HUT RI yang keberapa karena aku tidak menghiraukannya pada saat itu.

Aku bertemu teman yang sudah lama menghilang. Kini dia menjadi koordinator PASKIBRA, atau lebih tepatnya penanggungjawab pasukan bendera. Sekedar menyapa dan menanyakan kabar serta berbincang-bincang sebentar kemudian dia kembali sibuk dengan aktivitasnya mengatur posisi sesi pemotretan untuk kenang-kenangan.

Setelah selesai semuanya bubar sendiri-sendiri dan aku memilih untuk keluar dari halaman sekolah itu.

Aku berencana jalan-jalan melihat jalan raya depan sekolahan. Di sepanjang jalan terlihat ramai, kukira itu adalah acara besar semacam lomba tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi dalam satu rangkaian acara.

Aku berjalan di sepanjang jalan yang ramai dipenuhi oleh peserta lomba dari berbagai macam institusi.

"Halo Nasih", terdengar suara orang memanggilku. Aku menengok ke kanan ke sumber suara. Aku sudah tidak asing dengan suara tersebut, suara milik temanku yang juga telah lama menghilang karena pindah kuliah. Alasan dia pindah adalah tidak cocok dengan studi yang sedang di jalani. Memang dari segi nilai tidak ada tanda-tanda dia menguasai studi yang dijalani saat itu. Banyak nilai yang hancur.

Dengan gugup dia memakai sepatu, sepertinya dia baru selesai sholat. Dengan langkah cepat dia menghampiriku dan bersalaman. Rasanya sangat senang sekali bisa bertemu dengan teman yang telah lama menghilang. Mungkin dulu seringkali aku membuat masalah, dia juga seringkali marah. Bahkan sampai sekarang pun ada sedikit masalah yang belum kuselesaikan. Semenjak perpisahan kami waktu itu.

Aku terbangun dari tidurku. Masih terasa pening kepalaku. Beberapa jurus kemudian aku sudah masuk ke dalam mimpiku selanjutnya.

Di mimpi ini aku berada di rumah, karena masih ada hajatan, banyak saudaraku yang datang untuk membantu. Alhasil setiap ruangan penuh dengan orang, tak terkecuali ruang yang satu ini, ruang berukuran lima meter persegi ini dijadikan tempat khusus untuk bayi dan balita. Mereka tidur berjejer layaknya pindang yang banyak dijual di pasar. Sesekali aku bermain dengan mereka yang belum tidur.

Tepat di paling ujung ruangan sebelah tangga, ada bayi yang terlihat aneh, di dalam mulutnya terdapat benda seperti lumpur berwarna hitam keungu-unguan.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, aku menuju lantai satu melalui tangga yang ada di sebelahku. Di pertengahan tangga, tiba-tiba tangga itu berjalan, sehingga aku memutuskan turun melalui lemari dekat tangga dengan sedikit lompatan kecil.

Aku melihat di ruang sebelah masih ada kegiatan belajar-mengajar. Mereka tertawa kecil ketika melihatku turun melompat melalui lemari.

Aku terbangun, bertanya-tanya apa maksud dari mimpi-mimpi itu. Aneh tapi nyata walaupun terjadi di mimpi.

***

Ada satu mimpi lagi yang sangat menarik untuk saya ceritakan, tapi mimpi ini lebih panjang. Akan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk membuatnya. Kapan-kapan kalau moodnya baik dan ada waktu serta nggak lupa, pasti akan saya tulis lagi dengan penggambaran yang lebih jelas lagi.

Untuk mimpi-mimpi yang saya ceritakan tadi sepertinya belum mampu menggambarkan alur mimpi dan suasana dalam mimpi yang saya alami.

Yang penting sekarang subscribe aja dulu biar nggak ketinggalan ceritanya :)

Semoga membuat anda bingung :v

Terima kasih :)

[...]
image

Maha Besar Allah yang Telah Menciptakan Dunia dan Seisinya


Posted : |

Pagi hari ini aku bangun tidur pukul 03.55 wib. Dengan mengucapkan syukur alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatama wailaihinnusyur.

Suasana masih hening. Belum terlihat adanya aktivitas manusia, benar-benar masih hening.

Beberapa menit kemudian, mulai terdengar "assalamualaik" dari speaker-speaker masjid. Aku langsung bergegas ke sumur untuk mengambil air wudhu di pancuran sebelah sumur.

Pancuran itu berasal dari kolam tampung berukuran kurang lebih 2 meter persegi. Pancuran dan kolam dibatasi oleh tembok setebal satu bata dengan penghubung pipa yang juga berfungsi sebagai pancuran.

Sedangkan kolam berfungsi sebagai penampung sekaligus pengendap air yang berasal dari sumur yang airnya kurang jernih. Penghubung sumur dengan kolam adalah pipa dengan pompa air listrik.

***

Aku sholat Isya terlambat karena aku tidak sholat sebelum tidur. Selesai sholat aku berdzikir sembari menunggu waktu shubuh.

Dalam berdzikir aku merasa tenang, hati ini merasa tentram. Mungkin karena suasana masih hening, atau aku yang sudah jarang berdzikir. Entahlah yang jelas aku merasa sangat menikmati suasana itu.

Adzan subuh berkumandang. Aku berhenti berdzikir dan khidmat mendengarkan adzan serta menjawabnya. Dari dulu aku suka mendengarkan suara adzan yang paling dekat dari tempat kediamanku, atau adzan yang paling pertama. Aku tidak memandang apakah itu dari masjid dari ormas islam yang ku ikuti ataupun ormas-ormas yang tidak aku ikuti.

Aku lebih bersikap netral, tidak seperti sebagian orang yang terlalu fanatik dengan ormasnya. Bahkan gara-gara perbedaan ormas pernah terjadi tawuran. Kebetulan tempat tinggalku adalah perbatasan wilayah antara ormas satu dengan ormas lainnya. Sehingga ketika tawuran terjadi tidak terjadi hal-hal yang merugikan di rumah yang kutempati. Mungkin karena masih ada hubungan sosialisasi yang terjalin setiap harinya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebencian mungkin ada, tapi setidaknya kebencian itu tidak sebesar kebencian mereka yang jarang bersosialisasi ataupun yang sama sekali tidak pernah bersosialisasi antara kedua kubu tersebut. Doktrin-doktrin kebencian berterbaran dimana-mana. Semua orang terkena doktrin kebencian tersebut, baik kubu A ataupun kubu B, termasuk aku yang saat itu masih kecil masih anak-anak.

Dari doktrin kebencian tersebut, situasi semakin memanas, bahkan ada kejadian yang paling naas yaitu penyiksaan dan penghinaan tempat suci. Sungguh sangat tragis kejadian itu, entah siapa penyebar doktrin semacam itu samar, tajam, bahkan mungkin mematikan.

Seusai kumandang adzan selesai, aku langsung sholat shubuh.

Aku lebih nyaman sholat di rumah dari pada di masjid. Entah apa alasanku sehingga hatiku belum tertarik untuk sholat di masjid. Mungkin karena trauma masa lalu - diusir oleh pengurus karena terlambat datang ke masjid, atau karena kesibukanku di kampus yang melupakanku pada masjid, atau karena aku takut dianggap orang terlalu alim banyak orang yang memuji - sehingga aku lupa diri, atau karena aku telah terlena oleh rayuan iblis yang menghalang-halangiku untuk sholat di masjid, ataupun alasan-alasan lain yang hanya kujadikan alibi saja untuk tidak sholat di masjid.

Selesai sholat aku kembali ke kamar untuk melanjutkan menulis cerita yang belum sempat terselesaikan. Memang cerita itu rencananya akan kubuat panjang sepanjang novel. Tapi entah kenapa rasa kantuk, kepala pening datang secara tiba-tiba. Sejurus kemudian aku sudah memejamkan mata, tertidur, dan masuk dalam dunia baru, dunia aneh yang sering kuceritakan pada sahabatku yang juga tau dunia itu dan juga ke adek yang bukan siapa-siapaku.

Tapi sekarang adekku sudah risih dengan cerita-cerita dunia baru yang aneh ini. Mungkin dia setengah percaya, atau dia sudah bosan mendengarnya. Atau mungkin dia tidak pernah mengalami hal itu sendiri, sehingga dia menganggap tak terlalu penting untuk diceritakan.

Sahabatku sendiri, aku hanya bercerita ketika bertemu saja, butuh waktu seminggu untuk menunggunya.

Ada satu orang lagi yang juga biasa kujadikan tempat untuk curhatan yaitu pacarku. Hmm.. sebenarnya mungkin dia bukan pacarku, tapi pernah suatu hari aku dengan sadar mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Dan diapun memang berharap padaku, bahkan dia tak percaya ketika aku mengatakan hal itu.

Tapi sayangnya sekarang aku sudah jauh dengan pacarku, nomor hp pun aku tidak punya. Sebenarnya setiap saat aku bisa datang ke rumahnya, karena aku pernah menanyakannya dan dia mempersilahkannya. Tapi dengan berbagai pertimbangan, aku selalu memilih untuk tidak datang ke tempatnya, selain dia sibuk dengan urusannya, sekarang dia juga sudah menjalankan bisnis beberapa bulan yang lalu. Itulah yang selalu membuatku mengurungkan niat untuk mengunjunginya

***

Banyak orang yang terlihat sibuk menyiapkan berbagai macam peralatan untuk memasak dan tak ketinggalan bumbu-bumbunya. Tempat kediamanku ini berisi banyak orang yang berlalu lalang sibuk mempersiapkan acara hajatan pernikahan. Aku masih berada di kamar memperhatikan aktivitas mereka.

Aku merasa sudah saatnya harus sholat maghrib, dan kebetulan wudhuku belum batal. Seperti biasa, aku sholat di sembarang tempat yang kuanggap suci. Tapi entah kenapa ketika mau sujud tiba-tiba saja di depanku ada kursi yang menghalangiku untuk sujud.

Aku memutuskan membatalkan sholat dan menuju ke pasholatan (tempat sholat di rumah). Sebelum sampai di pasholatan aku meludah di tanah yang ada di dalam rumah. Aku kaget dan terbangun dari mimpi aneh itu.

Kuambil ponsel di sampingku, belum ada pemberitahuan chat yang masuk. Kepalaku masih terasa pening. Beberapa saat kemudian aku sudah terbawa masuk ke mimpi aneh sebelumnya dan melanjutkan mimpi aneh tersebut.

Aku masih bingung kenapa mimpi itu masih berlanjut sampai tiga kali terbangun dari mimpi itu.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang saya alami di mimpi kedua ini?
Dan siapakah orang yang berada di mimpi-mimpiku itu?

Nantikan jawabannya di cerita selanjutnya :)

Jangan lupa subscribe dengan memasukkan email di kolom berlangganan yang sudah saya sediakan.

Untuk yg menggunakan pc/komputer/laptop dan sejenisnya, kolom berlangganan ada di kanan postingan ini. Dan untuk yang menggunakan ponsel tablet kolom berlangganan ada di bawah postingan ini.

Terima kasih semoga bermanfaat :)

[...]
image
image

Di Balik Tetesan Air Hujan


Posted : | 2016/09/28

Hujan
http://artimimpi-az.com
Hujan membuatku merasakan apa yang pernah aku rasakan pada masa lalu. Setiap kali hujan turun aku selalu terbayang akan masa lalu yang sempat kulupakan. Perasaan yang tenang namun terkadang menyedihkan. Perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Hujan pernah menjadi alasan sebuah keselamatan untuk diriku. Di saat aku melakukan sesuatu yang sebenarnya tak baik untukku, di saat itu hujan menghentikanku. Aku berhenti dalam keterlambatan karena hujan. Aku mencoba terus berjalan, namun hujan tetap tak mengizinkan.

Hujan terkadang menjadi sebuah cobaan tersendiri ketika aku sedang berjuang. Aku merasakan keengganan ketika aku dihadang hujan, padahal aku sedang berjuang. Hujan menghalangiku di tengah jalan, aku tetap tak memperdulikan. Perjuangan tetap perjuangan, hujan tak bisa serta merta menghentikanku begitu saja. Aku tau bahwa hujan adalah rahmat Tuhan.

Aku masih terbayang-bayang oleh maksud dari kata agar fokus. Kata-kata yang simpel tapi membuatku sakit hati. Kata-kata itu benar-benar membuatku bak daun kering kerontang. Kata-kata yang tak bermakna namun membuatku jatuh dan susah untuk bangun.

Aku masih tak habis pikir. Ketika aku mulai merasakan kenyamanan, di situ pulalah aku mulai merasakan kehampaan, kegalauan, bahkan kesakitan tanpa sebab. Ah.. aku tak dapat menahan rasa sakit yang mendalam ini. Semoga Tuhan melindungi.

Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang peduli dengan nasibku ketika aku merasakan kesedihan. Hatiku yang lain menjawab hanyalah Tuhan yang selalu tau dan mengerti perasaanmu.

Terkadang aku berfikir seharusnya aku adalah orang yang selalu bahagia, karena semua orang tak tau dan mungkin tak ingin tau tentang kesedihanku. Bahkan kesedihanku dijadikan sebagai bahan hinaan oleh sebagian orang. Seperti itulah kehidupan di kala hujan datang.

*AwingSafi
[...]
image
image

Malam 17 Agustus


Posted : | 2016/08/17

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCERj06NwJbiG7OlCz0lEWdw28GIa450kp_87FnIdpJukQbise6VzGe35_VLZc8PphlamJO12vFAL3Jthi9kg3xK23lhdDMeaqkUnN7vZEtJ4Jt53y3kd3PoynWqAnuQxXR9QijLtUyhy_/s1600/P_20150816_193752.jpg
http://gumpangrt10rw03.blogspot.co.id
Malam itu16 agustus 2016. Aku keluar dari rumah untuk sekedar mengikuti acara tasyakuran HUT RI ke-71. Di jalan aku melihat santri putri yang sedang bergerombol, entah sedang apa disana sehingga aku harus memutar balik badan dan mencari jalan lain untuk sampai ke tempat acara tasyakuran. Jalan kali ini lebih panjang.

Tapi aku tak peduli dengan jarak yang harus kutempuh. Aku terus berjalan melewati segerombolan pemuda yang juga sudah bersiap-siap untuk mengikuti acara tasyakuran seperti yang akan aku ikuti. Salah satu diantara mereka ada yang berkata,"lihatlah. Safi saja sudah berangkat." Itu yang aku dengar. Entah apa yang dikatakannya dua pemuda mulai berjalan agak jauh di belakangku.

Aku tersenyum dan tak peduli dengan keadaan itu. Aku masih sibuk pada pikiranku. Entah apa yang aku pikirkan aku masih terus berjalan. Menelusuri jalan raya aku terus berjalan tak menghiraukan keadaan sampai di depan rumah saudara, saudaraku berada di depan rumah entah apa yang sedang dia lakukan dia menoleh kearahku. Aku mengajak dia untuk berangkat bersama dengan bahasa isyarat.

Dia juga menjawabnya dengan bahasa isyarat yang artinya mempersilahkanku untuk berangkat terlebih dulu. Aku terus berjalan tak memperdulikannya. Dari sekitar 50 meter aku sudah melihat panitia yang bertugas menerima tamu. Sampai di depan mereka, aku berjabat tangan dengan mereka, dan aku dipersilahkan untuk langsung bergabung dengan tamu undangan lainnya.

Jarak penerima tamu dengan tempat acara adalah 40 meter. Baru berjalan beberapa langkah, ada suara memanggil-manggil namaku. "Safi, Safi." Kutengok ke arah sumber suara aku melihat temanku yang sedang duduk santai sambil sibuk dengan telpon genggamnya. Aku menghampirinya mengajak untuk gabung ke tempat acara, tapi dia hanya mempersilahkanku.

Dia beralasan sedang menunggu teman-temannya yang masih di jalan. Sehingga terjadilah percakapan panjang sampai salah satu panitia menghampiri kami dan memaksa kami untuk bergabung ke tamu undangan lainnya.
[...]
image
image

Awing Safi Episode 2


Posted : | 2016/07/26

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1D84JXBr__9_RmMTwVmiuR7gaXRAyfOnNhzIChXzSg24n8XkV6PXxPAYo13fYhvkn1fdx2UMrK-fTaVjg9-o5nrJVh6cmqwWSrV_NS2cdqkgS1pI1NQrFxH8i4JM1Jz_4Lws7gIO4GjFt/s640/IMG_20160723_174504.png
Awing Safi Episode 1 memceritakan bahwa Safi pulang ke rumah karena di telpon oleh seorang perempuan.
* * *
Safi terkejut ketika dia sampai di depan rumahnya.
"Lhoh kok tenyata ada enam orang. Kirain cuma berdua. Mau ngapain ya?" Batin Safi.
Mereka tersenyum melihat Safi muncul di hadapannya. Ada yang tertawa merasa menang bahagia.
"Ada apa nih? Kok rame-rame datang kemari? Tanya Safi sambil memandang satu persatu yang datang dan menghampiri dika.
Dika adalah teman dekat Safi yang terlihat pendiam tapi dia pandai berbicara kepada siapa saja dan pandai bergaul kepada siapa saja yang dia temui. Ketika SMA dia teman satu angkatan seorganisasi. Dan sampai sekarang masih akrab seperti satu keluarga dengan Safi.
Mereka berjabat tangan dan saling sapa senyum.
"Ada apa dik?" Tanya Safi kepada Dika.
"Saya mewakili teman-teman. Yang pertama kita mau silaturrahmi, dan yang kedua mau minta maaf kalau kita ada salah. Sudah itu saja." Jawab dika sambil tersenyum.
Safi mendengarkan jawaban Dika sambil menyerngitkan dahi tidak percaya.
"Yang bener aja dik. Sebenarnya mau ngapain sih?" Safi kembali bertanya sambil menyapa pandang ke semua teman-temannya.
Mereka hanya tersenyum. Dika mulai menceritakan maksud tujuannya.
"Sebenarnya aku cuma di ajak adek-adek yang lagi mau survey tempat kemah buat pelantikan anggota nanti. Nah kalo kamu ikut, aku ikut. Tapi kalo kamu nggak, aku mau jalan-jalan." Jawab Dika.
Safi hanya mengangguk-angguk. Kemudian berkata dengan mantap,
"Ayo berangkat!"
"Katanya tadi masih kerja?, jadi nggak enak nih ngganggu." Sesal dika.
"Ndak apa-apa, ayo berangkat."
"Beneran nih nggak ngganggu?"
"Iya ndak apa-apa. Aku kan cuma membantu kakakku. Ayo berangkat." Jawab Safi dengan tegas.
Akhirnya Dika memutuskan untuk berangkat.
"Ya sudah, Ayo berangkat."
Safi masuk ke rumah, mengambil jaket berwudhu dan keluar rumah.
"Ayo berangkat"
[...]
image
image

Awing Safi Episode 1


Posted : | 2016/07/23

Malam telah datang, hiruk pikuk kehidupan masih belum sirna dari pendengaran, seorang pemuda masih mencoba mengendalikan emosinya. Dia sedang tidak mood dengan keadaannya. Pikirannya melayang-layang memikirkan sosok yang dia kagumi (kekasihnya). Namun dia enggan untuk membalas pesan dari kekasihnya. (Awing Safi adalah pemuda berusia 21 tahun yang berprinsip bahwa hidupnya adalah untuk memberi manfaat orang lain).

"Yuana kirana." Dia menyebut nama kekasihnya dalam hati.

Yuana kirana adalah remaja berusia 19 tahun. Perempuan yang giat berorganisasi, suka cemburu ketika melihat Awing Safi berdekatan dengan perempuan lain, tapi terkadang suka memberi kejutan untuk Safi.

"Malam ini perasaanku ndak tenang. Entah kenapa. Untuk sekedar inbokan sama kamu pun ndak mood sama sekali."

Safi masih merasakan perasaan yang tidak menentu. Dia terus memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya, tapi membuatnya gelisah.

"Ada apakah gerangan, kenapa perasaanku ndak tenang?"
"Semoga baik-baik saja."

Safi teringat rencana yang sudah hampir terorganisir dengan baik, tapi dia enggan untuk memikirkannya malam ini. Rasa galau itu benar-benar membuatnya malas untuk berfikir. Dia hanya ingin menenangkan dirinya.

"Dunia ini serasa tawar jika aku harus berfikir tentang dunia, namun aku melalaikan kehidupan setelahnya."
"Walaupun aku mencintaimu, tapi aku lebih suka dengan kesendirianku. Entah kenapa aku lebih suka menyendiri. Mungkin aku harus lebih memperbanyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku ingin melakukan apa yang telah disarankan oleh Rasulullah. Aku ingin menjadi anak yang selalu mendoakan orang tua. Aku ingin membahagiakan anak yatim. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan rencana yang sudah aku buat."
"Tapi Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah seorang pemuda yang tidak punya apa-apa. Keluargaku bukan keluarga yang kaya. Bapakku hanyalah tukang becak. Emakku hanyalah penjahit yang sudah tidak produktif. Saudara-saudaraku hanyalah orang biasa. Tapi aku yakin, Aku pasti bisa lebih sukses dari mereka."

"Sebenarnya aku masih bingung dengan masa depanku. Tapi entahlah aku ini aneh."

Udara malam masuk menyelinap sela-sela fentilasi berjalan menyapa kulit ari, mengikuti setiap jalan yang sudah ditentukan oleh Sang Ilahi Robbi.

"Dinginnya malam ini, semoga tidak seperti malam-malam sebelumnya."

Safi terbayang dengan mimpi akhir-akhir ini. Mimpi yang aneh dalam 3 hari terakhir. Dia bermimpi melakukan kesalahan yang melibatkan banyak orang.
Dia juga sering diganggu jin dalam tidurnya. Terkadang jin itu membawa Safi masuk ke alamnya, terkadang tiduran diatasnya. Dan lain sebagainya.

"Safi!"  Terdengar suara ibunya memanggil.
"Katanya mau menggoreng telur." Lanjutnya.

"Hmm.. oh iya. Tapi tadi emak masak ayam kan?" Safi balik bertanya.

"Iya. Itu sudah matang."

"Ya sudah, aku mau makan masakan ayam saja mak."

Safi langsung menuju ruang makan.

Dalam hal bertata krama, Safi memang kurang begitu mengerti. Terkadang dia bingung ketika banyak orang yang mencium tangan orang yang dianggap terhormat.

Dia pernah berpikir "Mencium tangan orang tuaku pun hanya setahun sekali. Itupun pada hari raya idul fitri. Kenapa aku harus mencium tangan orang lain, sedangkan aku sendiri hanya mencium tangan orang tuaku cuma setahun sekali. Inilah yang membuatku bingung dalam bertata krama."

Safi mengambil piring dan mengambil nasi dalam tempat penghangat nasi. Terlihat dia hanya mengambil nasi dengan porsi yang sedikit, jika dibandingkan dengan ukuran porsi makan untuk seorang pemuda. Seperti biasa, dia lebih suka memperbanyak lauknya daripada nasinya. Walaupun begitu, masih terlihat porsinya lebih sedikit.
Setelah dirasa cukup, Safi berdoa dan menikmati makanannya.

Ada hal yang unik dari Awing Safi ketika dia makan. Dia terbiasa makan dengan menggunakan 3 jari, jika makanannya tidak berkuah. Kebiasaan itu berawal dari nasehat ayahnya pada waktu kecil tentang tata cara makan yang sesuai dengan sunnah Rasul.

Setelah selesai makan dia kembali ke tempat tidurnya, duduk sebentar sambil merenung, kemudian tiduran sambil menulis diary di ponselnya dan tertidur.

Kebiasaan buruk Awing Safi adalah melupakan doa sebelum tidur dan doa bangun tidur.

* * *

Keesokan harinya Safi terbangunkan oleh suara pintu yang terbuka. Dia menoleh ke pintu.
"Mbakku ternyata." Safi bergeming.
"Alhamdulillah, dengan suara pintu itu, aku terbangun dari mimpi yang menegangkan itu." Dia belum bisa melupakan mimpi yang baru saja dialaminya.
Dia bermimpi melihat sekelompok orang yang dikubur hidup-hidup.
Tapi disaat penguburan hampir selesai, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari liang kubur itu. Ternyata seorang pemuda muncul dari dalamnya.
Safi sempat berfikir,"ah, ini cuma rekayasa agar dipuji orang banyak dan biar dianggap hebat. Nanti ujung-ujungnya menipu. Ini tidak bisa dibiarkan."
Pemuda itu pamitan untuk pulang.
"Heehh.. mau kemana kamu?" Tahan Safi sambil memegang erat tangan pemuda itu.
Tapi pemuda itu tetap bersikeras untuk pergi dan terjadilah aksi tarik-menarik antara Safi dengan pemuda itu. Safi berteriak-teriak meminta bantuan orang-orang di sekitarnya agar menahan pemuda itu, sambil menarik tangan pemuda itu, tapi tidak ada satupun orang yang peduli. Safi mencoba memanggil kakaknya, tapi kakaknya tidak segera datang.

Pemuda itu tersenyum-senyum dan mengeluarkan sebilah pisau. Safi melihat gerak-gerik pemuda itu langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah dan mengambil kuda-kuda(1).
"Waduh bahaya. Ternyata dugaanku benar." Safi memutar otak sambil menjaga jarak agar bisa menghindari kontak fisik dengan pemuda itu.

Dari belakang pemuda itu, terlihat teman Safi melangkah mendekati pemuda itu dengan sangat hati-hati, kemudian merebut pisau dari tangan pemuda itu dan memberikannya kepada Safi.

Suasana sedikit hening. Sekarang Safi sudah memegang sebilah pisau, giliran pemuda itu yang mundur beberapa langkah. Teman Safi sudah pergi entah kemana.

Dengan langkah penuh waspada, Safi berusaha mendekati pemuda itu dengan sebilah pisau di tangan kanannya.

Pemuda itu bergerak mundur dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Ternyata dari belakang pemuda itu muncul orang berbadan besar, berbrewok lebat, berkulit hitam yang membawa celurit.
Safipun kaget dan langsung mundur beberapa langkah lebih jauh, berniat untuk lari. Tapi sebelum Safi sempat lari ternyata orang itu sudah melempar celuritnya ke arah Safi dan langsung bersembunyi di balik bangunan pondok. Safi berusaha menghindar, tapi celurit itu sudah mengenai lengan Safi..
"Astaghfirullah." Dia melihat ke lengannya. "Alhamdulillah cuma sedikit."
Safi mengambil celurit itu. Sekarang dia memegang pisau dan celurit. Dia ketakutan, tapi berusaha meyakinkan diri.
"Aku ndak takut. Aku pasti bisa mengalahkan mereka"
Dengan langkah penuh keyakinan, Safi mendekati tempat persembunyian mereka. Setelah sampai di dekat tempat itu, Safi melompat kesamping dengan gaya seperti pemain action di TV  yang siap melempar pisaunya. Tapi ternyata mereka sudah menghilang tanpa jejak. Safi pun terjatuh di atas tanah sambil kebingungan.
"Lhoh, kok orangnya tidak ada? Padahal tadi masih disini?
Entahlah, yang penting aku selamat." Safi berjalan pulang.

Di depan rumahnya Safi melihat keluarganya sedang berjaga-jaga.

"Benar dugaanku kan? Mereka itu orang-orang jahat yang pura-pura baik." Safi bergeming dalam hatinnya.

"Itu itu !! ada orang yang muncul dari sekitar sumur!" Adik Safi berteriak sambil menunjuk arah yang dia maksud.

Safi bergegas lari ke sumur. Tapi suara pintu sudah membangunkan Safi dari mimpinya.

Safi tersadarkan dari lamunannya, tapi dia masih terbayang-bayang mimpi itu. Dia belum mau beranjak dari tempat tidurnya.Dia melihat kearah jam dinding.
"Sudah pukul 05.45 wib. Bangun ah, sebelum kena marah :)" Diapun bergegas bangun mengambil air wudhu dan sholat subuh.
Akhir-akhir ini Safi bangun kesiangan, karena memang udara yang dingin membuat dia agak malasan, ditambah dengan suasana bulan ramadhan yang masih tersisa di benaknya.
(Pada bulan ramadhan, Safi sering tidur setelah sahur, terkadang lupa sholat subuh).

* * *

Selesai sholat subuh, Safi kembali ke tempat tidurnya, mengambil ponsel dan menulis diary.

Tidak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00. Itu menandakan pukul 07.45 untuk jam wib. Jam dinding itu memang sudah di atur lebih cepat 15 menit dari jam wib semenjak bulan ramadhan. Gunanya adalah untuk mengatur jadwal memasak, agar tidak keburu imsyak.

Melihat kakaknya yang sudah siap-siap berangkat kerja, Safi pun bergegas mandi kemudian makan, dan ikut berangkat kerja bersama kakaknya.

Saat ini Safi masih libur kuliah. Dia diajak kakaknya untuk membantu bekerja di salah satu perusahaan konveksi di kampung tetangganya.
Kakak Safi bernama Hara. Dia adalah anak pertama yang sayang pada keluarganya. Dia selalu mendukung adik-adiknya dalam belajar.

* * *

Sampai di tempat kerja, Safi langsung menuju ke mesinnya dan bekerja.

Terlihat tempat kerjanya yang berantakan. Banyak kain-kain jeans yang berserakan, tapi Safi terlihat nyaman dengan keadaan seperti itu. Dia hanya sedikit membersihkan debu di sekitar mesin yang dia pakai.

Ponsel Safi bergetar beberapa kali, itu menandakan ada panggilan masuk.

"Siapa yang nelpon?" Safi bertanya-tanya dalam hatinya. Dia segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menerima panggilan.

"Hallo?" Sambil menebak-nebak siapa orang di seberang sana.
"Hallo kak. Saya mau ke rumah kakak sekarang, bisa nggak ya?" Jawab suara perempuan di seberang sana.
Sambil menebak-nebak dalam pikirannya, Safi menjawab,"Waduh, saya masih kerja dek, nanti saja ya jam dua belas? nunggu jam dua belasnya sambil jalan-jalan dululah, kemana gitu hhe" Safi balik bertanya dengan nada becandanya.
"Ya udah, nanti aku telepon lagi ya kak?" Jawab perempuan itu.

Sambungan telepon terputus

Safi memasukkan kembali ponsel, ke saku celananya sambil melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul 09.40 wib. Kemudian dia melanjutkan kerjanya.

Belum sampai 5 menit, ponselnya kembali bergetar.

Safi menerima panggilan.
"Hallo"
"Kak. Ke rumah kakaknya jadinya sekarang kak. Kita udah di jalan nih, sama kak Dika juga ini." Rengek suara dari seberang sana.
"Oke, okelah." Jawab Safi
"Beneran ya kak?" Tanya perempuan itu seperti tidak percaya
"Iya, oke." Jawab Safi meyakinkan.
"Ya udah, aku otw kesana kak."

Sambungan telepon terputus.

Safi kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia mulai tahu, siapa suara di seberang sana. Sambil melanjutkan kerja dalam hatinya bertanya-tanya," Ada keperluan apa ya? Lebaran sudah usai. Mungkin cuma sekedar main saja."

Beberapa saat kemudian, Safi mematikan mesinnya, berpamitan kepada kakaknya untuk pulang, dan meluncur pulang kerumah.

* * *

Setelah sampai di depan rumah, Safi terkejut melihat temannya...

* * *

Bersambung...

Apa yang membuat Safi terkejut?
Siapa perempuan itu?
Apa maksud perempuan itu datang?
Dan bagaimana kisah selanjutnya?

Baca Selengkapnya di Awing Safi episode Ke-2

Jangan lupa tinggalkan kritik sarannya di kolom komentar ya :)

[...]
image
image

Bocah


Posted : | 2016/07/14

http://cdn.ar.com/images/stories/2015/04/bocahgaza1.jpg
www.arrahmah.id
Suasana hening, seorang anak remaja sedang asik dalam dunianya. Sekali-sekali dia terbayang apa yang sedang dia alami.
Bayangan-bayangan orang tinggi berseragam. Bayangan-bayangan senjata laras panjang menyelimuti pikirannya.
Dia berfikir dan bertanya-tanya dalam hatinya,"kenapa aku harus bernasib seperti ini? Setiap hari aku ketakutan. Kapan aku bisa merasakan ketenangan? Kapan aku bisa merasakan kebebasan? Kapan aku bisa merasakan manisnya dunia pendidikan? Hmm.. Aku hanyalah orang biasa. Aku bukanlah siapa-siapa." Suara kendaraan menderu keras. Remaja itu berlarian ke kamar dan masuk ke kolong tempat tidur. Dia berdoa dalam hatinya "mudah-mudahan aku selamat."  Remaja itu ketakutan, dogma-dogma negatif menguasai pikirannya. Dia pernah mendengar dari orang-orang bahwa kendaraan itu adalah kendaraan orang jahat. Remaja itu semakin ketakutan, dia khawatir jika orang itu menghampirinya.
Sebenarnya yang mengendarai kendaraan itu adalah penjajah. Penjajah menyebar dogma-dogma yang membuat orang pribumi ketakutan. Itu adalah siasat penjajah untuk mencuri barang-barang berharga secara halus. Disaat orang-orang pribumi ketakutan, mereka memanfaatkannya untuk mengambil apa saja yang dianggap berharga.
Suara kendaraan berlalu. Remaja itu belum terlihat bergerak. Dia tertidur dalam kolong tempat tidur itu. Terdengar suara halus memanggilnya "Santi. Santi. Santi." Dia menoleh ke belakang, terlihat orang yang memakai pakaian serba putih. Dia memutar Otak mencoba mengingat-ingat, tapi dia merasakan bahwa dia belum mengenal orang itu, tapi dia juga merasakan seperti dekat dan kenal dengan orang itu.
Dalam kebingungan orang itu berkata,"tidak usah kau risaukan tentang adanya aku disini, aku hanya ingin kamu bersabar." Glubrakk!! Remaja itu terbangun dari mimpinya. Seekor kucing berlarian ketakutan. Dalam hati remaja itu penuh dengan rasa gemas dengan ulah si kucing itu. Mimpinya terbang entah kemana.
Dia mencoba mengingat-ingat mimpinya tapi dia benar-benar sudah lupa
[...]
↑ CB