Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts
image
image

Bagaimana Mereka Bisa Melihat Ketika Mata Tidak Mereka Gunakan Dengan Semestinya


Posted : | 2016/10/26

Pelanggaran Lalu Lintas
bekasiurbancity.com
Siang itu lalu lintas jalan raya terlihat ramai padat. Lalu lalang kendaraan bermotor memenuhi jalanan yang bergelombang karena ada perbaikan jalan sehingga membuat jalanan terlihat sangat sempit. Ditambah lagi dengan adanya trafic light yang mengharuskan pemakai jalan harus bergantian dari tiga arah yang berbeda.
Aku memandang detik lampu merah yang tak kunjung hijau. Orang-orang menerjang lampu merah tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, bahkan ada yang dengan pedenya tertawa ketika mereka melintas dengan tatapan mengejek kepadaku. Dan yang paling parah lagi dengan lagak marah mereka membunyikan klakson dan memaksa menerobos pemakai jalan yang berhenti saat lampu merah.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menantapkan hati seraya berkata "Aku berhenti karena aku bisa membaca." Sudah berkali-kali aku melihat markah jalan itu yang bertuliskan "Lurus ikuti lampu". Namun terkadang aku terpaksa melihat markah jalan itu untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah melihatnya.

Yang aku temui ada tiga trafic light yang sering diabaikan oleh pengguna jalan. Dan aku menemuinya pada saat berangkat dan pulang kuliah. Dua diantara Trafic light itu memang tidak ada petunjuknya secara jelas. Tapi salah satunya bertempat di perempatan yang secara otomatis lurus harus mengikuti lampu. Namun pada kenyataannya, banyak pengguna jalan yang mengabaikannya.

Terkadang aku tertawa sendiri ketika berhenti di trafic light itu. Banyak kejadian-kejadian yang sering membuat aku tertawa. Terkadang ketika aku berangkat bersama temanku juga tak jarang kita tertawa bersama, usil dengan pengguna jalan yang mau menerobos jalan dengan berhenti di tengah jalan, kaki sedikit dilebarkan ke kiri dan ke kanan, sehingga terkadang ada pengguna jalan yang terbawa emosi, dan setelah orang itu lewat, kita tertawa penuh kemenangan.

***

Aku melihat ke arah detik lampu merah masih menunjukkan detik ke lima belas. Orang-orang masih berlalu menerobos lampu merah. Sambil menunggu, aku menghitung jumlah pengguna jalan yang menerobos lampu merah.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas

Lampu hijau menyala. Aku langsung tancap gas meninggalkan trafic light yang penuh dengan kegilaan itu. Dalam hatiku hanya mengambil sebuah pelajaran yang sederhana, tapi banyak orang yang melalaikannya. Bahkan orang yang aku cintai pun bagian dari mereka yang melanggar lalu lintas. Aku hanya berpikir aku lebih beruntung dari dirimu.

Dalam hatiku bertanya-tanya " bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak menggunakan mata sebagaimana mata itu berfungsi. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau membutakan matamu sendiri. Bagaimana kau bisa melihat ketika kau tak mau tahu keadaanmu sendiri. Memang aku akui, kau lebih pintar dari aku, masalah nilaipun aku masih jauh di bawah, daripada nilaimu. Tapi aku punya nilai lebih. Aku lebih beruntung daripada dirimu. Walaupun aku tak sehebat kamu. Tapi aku bisa membaca. Aku masih bisa melihat. Aku masih peduli dengan diriku sendiri. Aku masih taat pada peraturan.

Apa gunanya pendidikan tinggi tapi untuk membacapun kau membutakan mata.
Apa gunanya kau punya nilai yang tinggi tapi kau tak peduli dengan dirimu sendiri yang bisa berakibat mencelakakan dirimu sendiri dan orang lain.

Apa gunanya semua itu?

***

Masih dalam jarak 100 meter sudah terhadang oleh lampu orange yang menyala tandanya hati-hati pelan-pelan, dan aku berhenti tepat pada lampu merah. Aku mengira semua yang terjadi di trafic light yang sudah aku lewati itu wajar. Dan trafic light yang satunya ini sangat tidak wajar dan sangat berbahaya  jika ada pengguna jalan yang menerobosnya.

Tapi, lampu merah, pengguna jalan dari arah depan sudah mulai jalan sekitar 5 detik lampu merah berlalu, masih ada pengguna jalan yang satu arah denganku menerobos lampu merah yang sedang menyala. Dan tidak hanya satu orang, tapi dua pengendara motor dan satu pengendara mobil.
Dalam hatiku,"Ohh... ternyata."
#AwingSafi
[...]
image
image

Awan Dingin Menyejukkan Hati


Posted : | 2016/10/01

http://tub.tubgit.com/reimg/resize-img.php?src=http://tub.tubgit.com/images247/qeopgp2kq05.jpg&h=450&w=728
tub.tubgit.com
Sambutan angin pagi mengalir kesela-sela pori-pori menyapa kulit ari. Lalu lalang kehidupan terus berjalan tak berhenti di perempatan jalan. Awan kelam telah menjadi awan penyejuk perasaan yang paling dalam. Udara segar mengisi relung hati penuh dengan ketenangan.
Aku masih tak mengerti apa arti awan hari ini. Bayanganku masih menerpa-nerpa kenangan masa lalu yang pernah berlalu. Seperti bayangan tanpa makna, tapi kini menjadi pertanyaan yang nyata dalam kesendirianku. Aku masih mencoba terus berfikir.

Awan, kemana dia pergi, Aku terus mencari, tapi hanya rasa dingin yang aku dapati. Aku mencoba mengira-ngira apakah dia menjelma sebagai penyejuk hati, ataukah dia hilang diterpa hujan, aku yakin dalam kebimbangan. Aku hanya pasrah dengan keadaan.

Aku merasa nyaman ketika dia tak menghadang, namun aku merasa kehilangan. Aku kehilangan kehadirannya sejak dari sore yang telah lalu. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasa kehilangan walapun dia sering membutakan mataku.

Ah awan, aku tak mengerti apa yang kau lakukan. Apakah kau hanya mengikuti takdir Tuhan, ataukah kau melakukan apa yang kau pikirkan. Awan menghilang ditelan hujan. Aku tak habis pikir kenapa dia menghilang begitu saja dari pandangan mataku yang sayu.

*AwingSafi

Cerita ini saya ambil pada sore hari ketika saya sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Ketika itu saya tertegun dengan pemandangan pegunungan yang terlihat jelas dari bumi Pekalongan tepatnya di Kecamatan Kedungwuni. Saya tertegun karena pemandangan pegunungan ini sangat jarang sekali terlihat dari sini. Pemandangan pegunungan yang terlihat jelas biru kehijau-hijauan sehingga terasa seperti sangat dekat dengan pegunungan ditambah lagi dengan hawa sejuk yang memanjakan kulit, menjadikan suasana seperti di pegunungan asli.

Pada waktu itu saya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ketika setelah hujan, kabut justru tidak terlihat. Saya menyebutnya sebagai awan. Dan pada waktu itu pula banyak pertanyaan yang mucul dari benak saya. Dan saya hanya terkagum-kagum merasakan suasana yang sangat nyaman.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa semua itu sudah ada yang menentukan dan semua itu sudah diatur sedemikian rupa. Awan menghilang mungkin terbawa hujan. Dan hujan menjadi sebab sebuah keindahan datang, walaupun saya merasa kehilangan awan, tapi ternyata dia ingin menunjukkan sebuah keagungan Tuhan.

Thank you for your attention

Read my story more :)
[...]
image
image

Di Balik Tetesan Air Hujan


Posted : | 2016/09/28

Hujan
http://artimimpi-az.com
Hujan membuatku merasakan apa yang pernah aku rasakan pada masa lalu. Setiap kali hujan turun aku selalu terbayang akan masa lalu yang sempat kulupakan. Perasaan yang tenang namun terkadang menyedihkan. Perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Hujan pernah menjadi alasan sebuah keselamatan untuk diriku. Di saat aku melakukan sesuatu yang sebenarnya tak baik untukku, di saat itu hujan menghentikanku. Aku berhenti dalam keterlambatan karena hujan. Aku mencoba terus berjalan, namun hujan tetap tak mengizinkan.

Hujan terkadang menjadi sebuah cobaan tersendiri ketika aku sedang berjuang. Aku merasakan keengganan ketika aku dihadang hujan, padahal aku sedang berjuang. Hujan menghalangiku di tengah jalan, aku tetap tak memperdulikan. Perjuangan tetap perjuangan, hujan tak bisa serta merta menghentikanku begitu saja. Aku tau bahwa hujan adalah rahmat Tuhan.

Aku masih terbayang-bayang oleh maksud dari kata agar fokus. Kata-kata yang simpel tapi membuatku sakit hati. Kata-kata itu benar-benar membuatku bak daun kering kerontang. Kata-kata yang tak bermakna namun membuatku jatuh dan susah untuk bangun.

Aku masih tak habis pikir. Ketika aku mulai merasakan kenyamanan, di situ pulalah aku mulai merasakan kehampaan, kegalauan, bahkan kesakitan tanpa sebab. Ah.. aku tak dapat menahan rasa sakit yang mendalam ini. Semoga Tuhan melindungi.

Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang peduli dengan nasibku ketika aku merasakan kesedihan. Hatiku yang lain menjawab hanyalah Tuhan yang selalu tau dan mengerti perasaanmu.

Terkadang aku berfikir seharusnya aku adalah orang yang selalu bahagia, karena semua orang tak tau dan mungkin tak ingin tau tentang kesedihanku. Bahkan kesedihanku dijadikan sebagai bahan hinaan oleh sebagian orang. Seperti itulah kehidupan di kala hujan datang.

*AwingSafi
[...]
image
image

Aku Iri denganmu


Posted : | 2016/09/07

Hasil gambar untuk iri
rumahjurnalku.blogspot.com
Pikiranku melayang-layang entah apa yang sedang aku pikirkan. Perasaanku tak menentu hatiku tak tahu tentang apa yang sedang aku rasakan. Aku terdiam dalam lamunan, semakin dalam dan sangat dalam. Kepalaku mulai terasa berat, terasa pusing dan mulai terkantuk-kantuk, aku pun tertidur dengan hp masih di genggamanku.

***

Hp bergetar, aku terbangun.

Kutatap layar ponsel. Aku mulai kegirangan. ada Sms dari temen, dia minta bantuan. Aku memang suka membantu walaupun kadang gagal. Aku merasa hidupku lebih bahagia ketika aku membantu orang lain, membahagiakan orang lain. Karena dengan adanya orang yang membutuhkanku berarti hidupku masih berarti bagi orang lain, aku merasa masih ada yang membutuhkanku, aku merasa lebih bahagia seperti mendapat semangat baru.

Tanpa pikir panjang aku mengiyakannya.

***

Pagi harinya aku berangkat kuliah lebih santai karena minggu sebelumnya sudah ada pernyataan dari dosen yang mengajar pagi ini bahwa beliau berangkat lebih siang yang seharusnya masuk jam
7. Aku berangkat lebih santai dari biasanya, aku menikmati perjalanan yang terasa lebih mengasyikkan, pagi ini terasa lebih Indah.

***

Adzan dhuhur berkumandang dosen mencukupkan pertemuan hari ini. Aku tersenyum penuh kemenangan. Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang berharga. Aku mulai bisa memahami karakter dosen satu persatu.

Hari ini aku hanya punya jadwal dua mata kuliah. Aku lebih santai menikmati waktu luang yang lumayan panjang. Pikiranku lebih terasa ringan tidak seperti malam-malam yang lalu. Aku masih enggan keluar dari ruang kelas.

Aku teringat ponselku sudah habis batereinya sejak dari tadi pagi. Seperti biasanya, ambil netbook+kabel data, powerbank kekinian hehe. Ponsel mulai nyala animasi baterei mengisi. Kunyalakan ponsel, menunggu proses booting, proses pencarian sinyal otomatis, dan muncul pemberitahuan sms. Ternyata temanku sudah menunggu di gedung sebelah. Ku matikan netbook dan ku masukkan ke tas dan bergegas keluar kelas. Aku menatap gedung sebelah. Dia sudah terlihat. Suasana di sekitarnya ramai dipenuhi mahasiswa-mahasiswa yang sedang sibuk dengan kesibukannya.

Aku masih diam di tempat sambil memandang ke arahnya, tapi dia tak melihatku. Aku masih enggan melangkahkan kaki ke arahnya. Aku hanya memastikan bahwa yang kulihat adalah dirinya.

"Safi." Terdengar suara temanku memanggilku dari jauh.

"Hei." Aku membalas sekenanya.

"Kamu bawa laptop nggak?" Tanyanya sambil berjalan ke arahku.

"Bawa, kenapa?"

"Ayo lanjutkan." Ajaknya.

"Lanjutkan apa?" Aku masih bingung.

"Downloadnya lah."

Aku mulai teringat dengan download-an yang belum selesai waktu itu. Aku mengiyakan ajakannya.

Teman yang satu ini cukup aneh. Kadang dia seperti anak kecil yang merengek minta sesuatu. Kadang seperti orang dewasa yang berlagak seperti paling tahu. Dan kali ini dia masih seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu, hari ini aku menurutinya. Aku mengabaikan janji untuk membantu dulu. Bukan karena aku tidak mau menemuinya, tapi aku merasa saat ini adalah saat yang belum tepat. Jam masih menunjukkan pukul 12.30 itu tandanya masih ada waktu satu satu jam setengah lagi untuk bertemu dan menepati janji untuk bertemu siang ini.

"Ayo ke depan rektorat." Ajak temanku

"Ayo." Jawabku.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 12.45 download-an tidak bisa dilanjutkan dan dengan terpaksa temanku harus masuk ke kelas kerena dia masih ada jadwal kuliah. Dia berjalan ke kelasnya dan aku menemui teman yang sejak sudah lumayan lama menunggu. Dia tidak sendirian, dia pura-pura tidak melihatku. Teman di sebelahnya tersenyum entah apa maksudnya.

"Ah, sial harus bertemu di saat-saat seperti ini."

Aku sebenarnya tidak ada masalah. Tapi dengan keadaan yang seperti ini bisa jadi memunculkan benih-benih fitnah diantara teman-temannya. Aku tidak mau dikira caper, dikira siapanya, lebih-lebih dikira pacarnya. Aku tidak mau membuat orang lain cemburu karena kedatanganku.

Aku melihat ada orang lain yang perhatian dengannya, dan aku tak mau berurusan dengan hal yang seperti itu. Tapi apa yang bisa kubuat. Aku sudah terlanjur mengiyakannya.
Seperti biasa dia tersenyum kepadaku. Dan aku tersenyum padanya, entah apa apa maksudnya. Kali ini bukan hanya dia yang tersenyum, tapi teman di sebelahnya pun ikut tersenyum.
Senyuman yang penuh dengan kecurigaan. Kubiarkan mereka berprasangka, kubiarkan mereka menilaiku sebebas-bebasnya. Entah apa yang ada di pikiran teman-temannya.

Dia mulai membuka pembicaraan, menceritakan semua yang sudah dilakukannya tentang ponselnya yang katanya aneh dan lain sebagainya, kemudian dia menyerahkan ponselnya kepadaku. Aku penasaran dengan apa yang dia ceritakan tentang keanehan ponselnya dan aku mulai menelusuri satu persatu. Aku juga mulai merasakan keanehannya bahkan aku hampir menyerahkan ponselnya.

Aku terdiam sejenak, aku mencoba berfikir, aku merasa bahwa ini ada kesalahan yang perlu di telusuri lebih lanjut, aku menghirup nafas panjang.

Aku melihat ke arahnya. Dia masih sibuk dengan diskusinya. Ku perhatikan arah pembicaraannya, mereka sedang membicarakan materi kuliah. Aku masih memperhatikan pembicaraan mereka sambil menatap ke arah ponselnya.

Begitu indahnya jadi dia yang selalu ditemani oleh teman-teman yang selalu membantu setiap kesulitannya. Aku iri melihatnya, namun aku hanya bisa memandangnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
[...]
image
image

Malam 17 Agustus


Posted : | 2016/08/17

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCERj06NwJbiG7OlCz0lEWdw28GIa450kp_87FnIdpJukQbise6VzGe35_VLZc8PphlamJO12vFAL3Jthi9kg3xK23lhdDMeaqkUnN7vZEtJ4Jt53y3kd3PoynWqAnuQxXR9QijLtUyhy_/s1600/P_20150816_193752.jpg
http://gumpangrt10rw03.blogspot.co.id
Malam itu16 agustus 2016. Aku keluar dari rumah untuk sekedar mengikuti acara tasyakuran HUT RI ke-71. Di jalan aku melihat santri putri yang sedang bergerombol, entah sedang apa disana sehingga aku harus memutar balik badan dan mencari jalan lain untuk sampai ke tempat acara tasyakuran. Jalan kali ini lebih panjang.

Tapi aku tak peduli dengan jarak yang harus kutempuh. Aku terus berjalan melewati segerombolan pemuda yang juga sudah bersiap-siap untuk mengikuti acara tasyakuran seperti yang akan aku ikuti. Salah satu diantara mereka ada yang berkata,"lihatlah. Safi saja sudah berangkat." Itu yang aku dengar. Entah apa yang dikatakannya dua pemuda mulai berjalan agak jauh di belakangku.

Aku tersenyum dan tak peduli dengan keadaan itu. Aku masih sibuk pada pikiranku. Entah apa yang aku pikirkan aku masih terus berjalan. Menelusuri jalan raya aku terus berjalan tak menghiraukan keadaan sampai di depan rumah saudara, saudaraku berada di depan rumah entah apa yang sedang dia lakukan dia menoleh kearahku. Aku mengajak dia untuk berangkat bersama dengan bahasa isyarat.

Dia juga menjawabnya dengan bahasa isyarat yang artinya mempersilahkanku untuk berangkat terlebih dulu. Aku terus berjalan tak memperdulikannya. Dari sekitar 50 meter aku sudah melihat panitia yang bertugas menerima tamu. Sampai di depan mereka, aku berjabat tangan dengan mereka, dan aku dipersilahkan untuk langsung bergabung dengan tamu undangan lainnya.

Jarak penerima tamu dengan tempat acara adalah 40 meter. Baru berjalan beberapa langkah, ada suara memanggil-manggil namaku. "Safi, Safi." Kutengok ke arah sumber suara aku melihat temanku yang sedang duduk santai sambil sibuk dengan telpon genggamnya. Aku menghampirinya mengajak untuk gabung ke tempat acara, tapi dia hanya mempersilahkanku.

Dia beralasan sedang menunggu teman-temannya yang masih di jalan. Sehingga terjadilah percakapan panjang sampai salah satu panitia menghampiri kami dan memaksa kami untuk bergabung ke tamu undangan lainnya.
[...]
image
image

Awing Safi Episode 2


Posted : | 2016/07/26

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1D84JXBr__9_RmMTwVmiuR7gaXRAyfOnNhzIChXzSg24n8XkV6PXxPAYo13fYhvkn1fdx2UMrK-fTaVjg9-o5nrJVh6cmqwWSrV_NS2cdqkgS1pI1NQrFxH8i4JM1Jz_4Lws7gIO4GjFt/s640/IMG_20160723_174504.png
Awing Safi Episode 1 memceritakan bahwa Safi pulang ke rumah karena di telpon oleh seorang perempuan.
* * *
Safi terkejut ketika dia sampai di depan rumahnya.
"Lhoh kok tenyata ada enam orang. Kirain cuma berdua. Mau ngapain ya?" Batin Safi.
Mereka tersenyum melihat Safi muncul di hadapannya. Ada yang tertawa merasa menang bahagia.
"Ada apa nih? Kok rame-rame datang kemari? Tanya Safi sambil memandang satu persatu yang datang dan menghampiri dika.
Dika adalah teman dekat Safi yang terlihat pendiam tapi dia pandai berbicara kepada siapa saja dan pandai bergaul kepada siapa saja yang dia temui. Ketika SMA dia teman satu angkatan seorganisasi. Dan sampai sekarang masih akrab seperti satu keluarga dengan Safi.
Mereka berjabat tangan dan saling sapa senyum.
"Ada apa dik?" Tanya Safi kepada Dika.
"Saya mewakili teman-teman. Yang pertama kita mau silaturrahmi, dan yang kedua mau minta maaf kalau kita ada salah. Sudah itu saja." Jawab dika sambil tersenyum.
Safi mendengarkan jawaban Dika sambil menyerngitkan dahi tidak percaya.
"Yang bener aja dik. Sebenarnya mau ngapain sih?" Safi kembali bertanya sambil menyapa pandang ke semua teman-temannya.
Mereka hanya tersenyum. Dika mulai menceritakan maksud tujuannya.
"Sebenarnya aku cuma di ajak adek-adek yang lagi mau survey tempat kemah buat pelantikan anggota nanti. Nah kalo kamu ikut, aku ikut. Tapi kalo kamu nggak, aku mau jalan-jalan." Jawab Dika.
Safi hanya mengangguk-angguk. Kemudian berkata dengan mantap,
"Ayo berangkat!"
"Katanya tadi masih kerja?, jadi nggak enak nih ngganggu." Sesal dika.
"Ndak apa-apa, ayo berangkat."
"Beneran nih nggak ngganggu?"
"Iya ndak apa-apa. Aku kan cuma membantu kakakku. Ayo berangkat." Jawab Safi dengan tegas.
Akhirnya Dika memutuskan untuk berangkat.
"Ya sudah, Ayo berangkat."
Safi masuk ke rumah, mengambil jaket berwudhu dan keluar rumah.
"Ayo berangkat"
[...]
image
image

Awing Safi Episode 1


Posted : | 2016/07/23

Malam telah datang, hiruk pikuk kehidupan masih belum sirna dari pendengaran, seorang pemuda masih mencoba mengendalikan emosinya. Dia sedang tidak mood dengan keadaannya. Pikirannya melayang-layang memikirkan sosok yang dia kagumi (kekasihnya). Namun dia enggan untuk membalas pesan dari kekasihnya. (Awing Safi adalah pemuda berusia 21 tahun yang berprinsip bahwa hidupnya adalah untuk memberi manfaat orang lain).

"Yuana kirana." Dia menyebut nama kekasihnya dalam hati.

Yuana kirana adalah remaja berusia 19 tahun. Perempuan yang giat berorganisasi, suka cemburu ketika melihat Awing Safi berdekatan dengan perempuan lain, tapi terkadang suka memberi kejutan untuk Safi.

"Malam ini perasaanku ndak tenang. Entah kenapa. Untuk sekedar inbokan sama kamu pun ndak mood sama sekali."

Safi masih merasakan perasaan yang tidak menentu. Dia terus memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya, tapi membuatnya gelisah.

"Ada apakah gerangan, kenapa perasaanku ndak tenang?"
"Semoga baik-baik saja."

Safi teringat rencana yang sudah hampir terorganisir dengan baik, tapi dia enggan untuk memikirkannya malam ini. Rasa galau itu benar-benar membuatnya malas untuk berfikir. Dia hanya ingin menenangkan dirinya.

"Dunia ini serasa tawar jika aku harus berfikir tentang dunia, namun aku melalaikan kehidupan setelahnya."
"Walaupun aku mencintaimu, tapi aku lebih suka dengan kesendirianku. Entah kenapa aku lebih suka menyendiri. Mungkin aku harus lebih memperbanyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku ingin melakukan apa yang telah disarankan oleh Rasulullah. Aku ingin menjadi anak yang selalu mendoakan orang tua. Aku ingin membahagiakan anak yatim. Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa melakukan rencana yang sudah aku buat."
"Tapi Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah seorang pemuda yang tidak punya apa-apa. Keluargaku bukan keluarga yang kaya. Bapakku hanyalah tukang becak. Emakku hanyalah penjahit yang sudah tidak produktif. Saudara-saudaraku hanyalah orang biasa. Tapi aku yakin, Aku pasti bisa lebih sukses dari mereka."

"Sebenarnya aku masih bingung dengan masa depanku. Tapi entahlah aku ini aneh."

Udara malam masuk menyelinap sela-sela fentilasi berjalan menyapa kulit ari, mengikuti setiap jalan yang sudah ditentukan oleh Sang Ilahi Robbi.

"Dinginnya malam ini, semoga tidak seperti malam-malam sebelumnya."

Safi terbayang dengan mimpi akhir-akhir ini. Mimpi yang aneh dalam 3 hari terakhir. Dia bermimpi melakukan kesalahan yang melibatkan banyak orang.
Dia juga sering diganggu jin dalam tidurnya. Terkadang jin itu membawa Safi masuk ke alamnya, terkadang tiduran diatasnya. Dan lain sebagainya.

"Safi!"  Terdengar suara ibunya memanggil.
"Katanya mau menggoreng telur." Lanjutnya.

"Hmm.. oh iya. Tapi tadi emak masak ayam kan?" Safi balik bertanya.

"Iya. Itu sudah matang."

"Ya sudah, aku mau makan masakan ayam saja mak."

Safi langsung menuju ruang makan.

Dalam hal bertata krama, Safi memang kurang begitu mengerti. Terkadang dia bingung ketika banyak orang yang mencium tangan orang yang dianggap terhormat.

Dia pernah berpikir "Mencium tangan orang tuaku pun hanya setahun sekali. Itupun pada hari raya idul fitri. Kenapa aku harus mencium tangan orang lain, sedangkan aku sendiri hanya mencium tangan orang tuaku cuma setahun sekali. Inilah yang membuatku bingung dalam bertata krama."

Safi mengambil piring dan mengambil nasi dalam tempat penghangat nasi. Terlihat dia hanya mengambil nasi dengan porsi yang sedikit, jika dibandingkan dengan ukuran porsi makan untuk seorang pemuda. Seperti biasa, dia lebih suka memperbanyak lauknya daripada nasinya. Walaupun begitu, masih terlihat porsinya lebih sedikit.
Setelah dirasa cukup, Safi berdoa dan menikmati makanannya.

Ada hal yang unik dari Awing Safi ketika dia makan. Dia terbiasa makan dengan menggunakan 3 jari, jika makanannya tidak berkuah. Kebiasaan itu berawal dari nasehat ayahnya pada waktu kecil tentang tata cara makan yang sesuai dengan sunnah Rasul.

Setelah selesai makan dia kembali ke tempat tidurnya, duduk sebentar sambil merenung, kemudian tiduran sambil menulis diary di ponselnya dan tertidur.

Kebiasaan buruk Awing Safi adalah melupakan doa sebelum tidur dan doa bangun tidur.

* * *

Keesokan harinya Safi terbangunkan oleh suara pintu yang terbuka. Dia menoleh ke pintu.
"Mbakku ternyata." Safi bergeming.
"Alhamdulillah, dengan suara pintu itu, aku terbangun dari mimpi yang menegangkan itu." Dia belum bisa melupakan mimpi yang baru saja dialaminya.
Dia bermimpi melihat sekelompok orang yang dikubur hidup-hidup.
Tapi disaat penguburan hampir selesai, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari liang kubur itu. Ternyata seorang pemuda muncul dari dalamnya.
Safi sempat berfikir,"ah, ini cuma rekayasa agar dipuji orang banyak dan biar dianggap hebat. Nanti ujung-ujungnya menipu. Ini tidak bisa dibiarkan."
Pemuda itu pamitan untuk pulang.
"Heehh.. mau kemana kamu?" Tahan Safi sambil memegang erat tangan pemuda itu.
Tapi pemuda itu tetap bersikeras untuk pergi dan terjadilah aksi tarik-menarik antara Safi dengan pemuda itu. Safi berteriak-teriak meminta bantuan orang-orang di sekitarnya agar menahan pemuda itu, sambil menarik tangan pemuda itu, tapi tidak ada satupun orang yang peduli. Safi mencoba memanggil kakaknya, tapi kakaknya tidak segera datang.

Pemuda itu tersenyum-senyum dan mengeluarkan sebilah pisau. Safi melihat gerak-gerik pemuda itu langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah dan mengambil kuda-kuda(1).
"Waduh bahaya. Ternyata dugaanku benar." Safi memutar otak sambil menjaga jarak agar bisa menghindari kontak fisik dengan pemuda itu.

Dari belakang pemuda itu, terlihat teman Safi melangkah mendekati pemuda itu dengan sangat hati-hati, kemudian merebut pisau dari tangan pemuda itu dan memberikannya kepada Safi.

Suasana sedikit hening. Sekarang Safi sudah memegang sebilah pisau, giliran pemuda itu yang mundur beberapa langkah. Teman Safi sudah pergi entah kemana.

Dengan langkah penuh waspada, Safi berusaha mendekati pemuda itu dengan sebilah pisau di tangan kanannya.

Pemuda itu bergerak mundur dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Ternyata dari belakang pemuda itu muncul orang berbadan besar, berbrewok lebat, berkulit hitam yang membawa celurit.
Safipun kaget dan langsung mundur beberapa langkah lebih jauh, berniat untuk lari. Tapi sebelum Safi sempat lari ternyata orang itu sudah melempar celuritnya ke arah Safi dan langsung bersembunyi di balik bangunan pondok. Safi berusaha menghindar, tapi celurit itu sudah mengenai lengan Safi..
"Astaghfirullah." Dia melihat ke lengannya. "Alhamdulillah cuma sedikit."
Safi mengambil celurit itu. Sekarang dia memegang pisau dan celurit. Dia ketakutan, tapi berusaha meyakinkan diri.
"Aku ndak takut. Aku pasti bisa mengalahkan mereka"
Dengan langkah penuh keyakinan, Safi mendekati tempat persembunyian mereka. Setelah sampai di dekat tempat itu, Safi melompat kesamping dengan gaya seperti pemain action di TV  yang siap melempar pisaunya. Tapi ternyata mereka sudah menghilang tanpa jejak. Safi pun terjatuh di atas tanah sambil kebingungan.
"Lhoh, kok orangnya tidak ada? Padahal tadi masih disini?
Entahlah, yang penting aku selamat." Safi berjalan pulang.

Di depan rumahnya Safi melihat keluarganya sedang berjaga-jaga.

"Benar dugaanku kan? Mereka itu orang-orang jahat yang pura-pura baik." Safi bergeming dalam hatinnya.

"Itu itu !! ada orang yang muncul dari sekitar sumur!" Adik Safi berteriak sambil menunjuk arah yang dia maksud.

Safi bergegas lari ke sumur. Tapi suara pintu sudah membangunkan Safi dari mimpinya.

Safi tersadarkan dari lamunannya, tapi dia masih terbayang-bayang mimpi itu. Dia belum mau beranjak dari tempat tidurnya.Dia melihat kearah jam dinding.
"Sudah pukul 05.45 wib. Bangun ah, sebelum kena marah :)" Diapun bergegas bangun mengambil air wudhu dan sholat subuh.
Akhir-akhir ini Safi bangun kesiangan, karena memang udara yang dingin membuat dia agak malasan, ditambah dengan suasana bulan ramadhan yang masih tersisa di benaknya.
(Pada bulan ramadhan, Safi sering tidur setelah sahur, terkadang lupa sholat subuh).

* * *

Selesai sholat subuh, Safi kembali ke tempat tidurnya, mengambil ponsel dan menulis diary.

Tidak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00. Itu menandakan pukul 07.45 untuk jam wib. Jam dinding itu memang sudah di atur lebih cepat 15 menit dari jam wib semenjak bulan ramadhan. Gunanya adalah untuk mengatur jadwal memasak, agar tidak keburu imsyak.

Melihat kakaknya yang sudah siap-siap berangkat kerja, Safi pun bergegas mandi kemudian makan, dan ikut berangkat kerja bersama kakaknya.

Saat ini Safi masih libur kuliah. Dia diajak kakaknya untuk membantu bekerja di salah satu perusahaan konveksi di kampung tetangganya.
Kakak Safi bernama Hara. Dia adalah anak pertama yang sayang pada keluarganya. Dia selalu mendukung adik-adiknya dalam belajar.

* * *

Sampai di tempat kerja, Safi langsung menuju ke mesinnya dan bekerja.

Terlihat tempat kerjanya yang berantakan. Banyak kain-kain jeans yang berserakan, tapi Safi terlihat nyaman dengan keadaan seperti itu. Dia hanya sedikit membersihkan debu di sekitar mesin yang dia pakai.

Ponsel Safi bergetar beberapa kali, itu menandakan ada panggilan masuk.

"Siapa yang nelpon?" Safi bertanya-tanya dalam hatinya. Dia segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menerima panggilan.

"Hallo?" Sambil menebak-nebak siapa orang di seberang sana.
"Hallo kak. Saya mau ke rumah kakak sekarang, bisa nggak ya?" Jawab suara perempuan di seberang sana.
Sambil menebak-nebak dalam pikirannya, Safi menjawab,"Waduh, saya masih kerja dek, nanti saja ya jam dua belas? nunggu jam dua belasnya sambil jalan-jalan dululah, kemana gitu hhe" Safi balik bertanya dengan nada becandanya.
"Ya udah, nanti aku telepon lagi ya kak?" Jawab perempuan itu.

Sambungan telepon terputus

Safi memasukkan kembali ponsel, ke saku celananya sambil melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul 09.40 wib. Kemudian dia melanjutkan kerjanya.

Belum sampai 5 menit, ponselnya kembali bergetar.

Safi menerima panggilan.
"Hallo"
"Kak. Ke rumah kakaknya jadinya sekarang kak. Kita udah di jalan nih, sama kak Dika juga ini." Rengek suara dari seberang sana.
"Oke, okelah." Jawab Safi
"Beneran ya kak?" Tanya perempuan itu seperti tidak percaya
"Iya, oke." Jawab Safi meyakinkan.
"Ya udah, aku otw kesana kak."

Sambungan telepon terputus.

Safi kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia mulai tahu, siapa suara di seberang sana. Sambil melanjutkan kerja dalam hatinya bertanya-tanya," Ada keperluan apa ya? Lebaran sudah usai. Mungkin cuma sekedar main saja."

Beberapa saat kemudian, Safi mematikan mesinnya, berpamitan kepada kakaknya untuk pulang, dan meluncur pulang kerumah.

* * *

Setelah sampai di depan rumah, Safi terkejut melihat temannya...

* * *

Bersambung...

Apa yang membuat Safi terkejut?
Siapa perempuan itu?
Apa maksud perempuan itu datang?
Dan bagaimana kisah selanjutnya?

Baca Selengkapnya di Awing Safi episode Ke-2

Jangan lupa tinggalkan kritik sarannya di kolom komentar ya :)

[...]
↑ CB